CERITAABG69 | BERCINTA DENGAN SATLANTAS

CERITAABG69 | BERCINTA DENGAN SATLANTAS – Aku bermukim di kompleks kompleks elit di Yogyakarta. Suamiku tergolong orang yang tidak jarang kali sibuk. Sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Kejaksaan Yogyakarta tugasnya boleh dibilang tidak kenal waktu. Usiaku telah 35 tahun selisih tiga tahun lebih tua suamiku. Tinggi 158 cm dan berat 50 kg, orang-orang bilang tubuhku bagus, namun menuruntuku biasa–biasa saja. Aku punya dua putra, anak kesatu ruang belajar tiga SMP dan anak kedua ruang belajar satu SMP. Sebut saja namaku Ina (bukan nama sebenarnya).

ceritaabg69.com

Aku melakukan kekeliruan yang paling fatal dalam hidup ini sebab aku sudah berselingkuh dengan seseorang yang aku belum begitu mengenalnya.

Singkat cerita, kejadian ini pada tanggal enam Maret 2012, dimana waktu tersebut aku berangjangsana kekantor suamiku sesudah aku kembali dari mengajar, oh ya, aku ialah seorang guru di di antara SMP Negeri dan Swasta di Yogyakarta.

Dari sekolahan aku langsung melucur kekantor Kejaksaan Yogyakarta, namun diperempatan sebelah unsur timur tugu aku sudah melanggar lampu merah dan kesudahannya aku diburu oleh salah seorang polisi yang sedang bertugas, sang Polisi berhenti mencukur laju kendaraanku aku juga bergegas memasuki rem.

“Selamat Siang Bu..!”
“Siang pak”, begitu sahutku.
“Maaf Bu, Anda sudah melanggar lampu merah, Tolong tunjukan SIM dan STNK Anda.”

Aku juga mengeluarkan isi kantong dan memberikan SIM beserta STNK.

“Maaf Bu, kita Ikut saya kepos Polisi.”

Aku juga menurutinya sebab aku pun merasa bersalah.
Polisi muda itu masih berusia selama 28 Tahun berinisial “R”.
Kami juga sama–sama mengarah ke pos polisi.

Setelah hingga dipos polisi saya diberi pilihan untuk membalikkan SIM saya. Yang kesatu aku mesti sidang pada tanggal 11 Maret dan aku mesti menunaikan denda sebesar Rp. 20.000,00. Tanpa ambil pusing akupun langsung menunaikan denda sebab aku pun tergesa–gesa mengarah ke kantor suamiku, sebab suamiku sudah menungguku untuk kembali bareng, kebetulan suamiku tidak bawa mobil karena digunakan salah satu temannya.

Ku akui bila polisi itu tampan, badan tinggi dan tegap. Setelah proses pembayaran denda selesai, sang polisi bertanya.

“Maaf Bu, mengapa Ibu sepertinya Tergesa-gesa?”
“Iya ini pak, saya sudah dirindukan suamiku dikantornya.”
“Kalau boleh tahu kantornya dimana Bu?”
“Kantor Kejaksaan Pak”, aku jawab pertanyaannya.
“Oya, Suami Ibu siapa namanya, bila boleh tau”?
“Pak Guruh (bukan Nama Sebenarnya)”
“Ha… Pak Guruh”, Polisi merasa terkejut.
“Iya memang kenapa”, tanyaku untuk polisi muda.
“saya kenal baik bu dengan dia.”
“Oh ya… Bapak kenal dimana?”, Kembali tanyaku.
“saya tidak jarang kekantor kejaksaan Bu, jadi ya kenal dengan pak Guruh.”
“Oh… Iya sich polisi sama kejaksaan masih saudara ya”, begitu gurauku dengan polisi muda.
“Ah… Ibu dapat saja. Pak Guruh beruntung ya punya istri secantik ibu.”
“Terima kasih pak atas pujiannya, namun saya boleh pergi pak. Kasihan suamiku telah menunggu”, begitu sahuntuku sama polis muda.
“Oh… Silahkan bu, bila ibu perlu sesuatu yang bersangkutan dengan polisi silahkan hubungi saya bu”, seraya kasih secarik kertas berisikan nomor hp dia.
Akupun menerimanya dan langsung pergi kekantor suamiku.

Setiba dikantor suamiku, suamiku sudah menantikan diruang tamu, sedang bincang–bincang dengan teman kerjanya.

“Kok mama lama banget sich, kemana aja?”, tanya suamiku kepadaku.
“Maaf pa, tadi saya ketilang”, jawabku singkat.
“Kok mama tidak bilang, kan nanti dapat tidak bayar denda”, jawab suamiku.
“Gak masalah pa, lagi pula mama yang salah.”
“Emang siapa yang tilang anda ma?”, tanya suamiku.
“Dia namanya Randi (Bukan nama sebenarnya)”, begitu jawabku sama suamiku.
“Ha… Randi, mama tidak bilang bila mama istriku?”
“Bilang sich pa, namun pas sudah menunaikan denda, udahlah pa tidak usah dibicarakan lagi”, begitu aku meyakinkan suamiku biar tidak berkepanjangan.
“ya sudah mari pulang”, ajak suamiku.

ceritaabg69.com

Setelah suamiku pamit untuk rekan–rekannya, langsung aku dan suamiku berboncengan mengarah ke rumah.
Keesokan harinya hari kamis tanggal tujuh Maret 2012, kebetulan aku tidak mengajar, sebab hari kamis tidak terdapat jam latihan yang saya ajarkan. Akhirnya aku dirumah sendiri sebab anak–anak sekolah dan suami kekantor yang ad Cuma pembantu.

Sekitar pukul 10 siang telepon lokasi tinggal berdering. Aku juga lansung angkat teleponnya.

“Halo… Selamat pagi”, jawabku.
“Halo ma ini papa, tadi polisi yang menilang anda kemarin datang kekantor mohon maaf sama papa, dan inginkan ngembaliin duit denda kemarin”, kata suamiku ditelepon.
“Trus gimana pa?, ya udahlah pa tidak usah diusut lagi.”
“Aku tidak ngapain–ngapain kok, tadi dia sendiri yang datang kekantor dan mohon maaf”, begitu jawab suamiku.
“Ya udahlah, terima aja duit dendanya, berlalu kan?”, akupun menjawab
“Sekarang dia mengarah ke rumah kita, sebab aku bilang mohon maaf aja langsung ma istriku”, jawab suamiku.
“Ihh, ngapain pa?, kayak tidak cukup kerjaan aja?”, aku menjawab perkataannya.
“Ya udah tidak masalah, ntar dia cuma mohon maaf kok. Dah ya ma, papa lagi kerja nich”, begitu kata suamiku.
“Ya udah pa, da…”, aku juga tutup teleponnya.

Selang tiga puluh menit terdapat kendaraan sepeda motor Honda Tiger datang, aku sedang menyaksikan TV diruang keluarga.

“Permisi… Permisi…”, panggil seseorang dibalik pintu depan.
“Bi… Tolong buka pintu, terdapat tamu”, aku mengajak pembantuku.
“Iya bu”, jawab pembantuku.
“Maaf mbak bu Ida ada?”, tanya seorang tamu tadi.
“Ada pak, namun bapak siapa ya?”, Tanya pulang pembantuku.
“Oh ya, bilang saja saya Randi. Ibu dah tahu kok”, jawabnya.
Aku yang didalam ruang family mendengar percakapannya, aku terkejut sesudah yang datang ialah Randi sang polisi muda yang tampan, tegap dan tinggi.
“Silahkan masuk pak”, pembantuku bersikap sopan terhadapnya.

Gak lama lantas pembantuku datang.

“Bu terdapat yang cari ibu?”, kata pembantuku.
“Siapa bi?”, tanyaku pura–pura tidak tau.
“Randi bu, katanya ibu telah tau”, jawab pembantuku yang polos.
“Ya udah sana masak lagi”, begitu perintahku sama pembantuku.

Akupun berdiri mengarah ke ruang tamu.

“Eh.. Pak Randi, terdapat apa ya pak? Apa masih butuh syarat lagi guna ditilang?”, kataku tidak banyak menyindir.
“Gak bu, jadi tidak enak nich. Saya melulu minta maaf bu”, jawab Randi.
“Ngapain mohon maaf, kan saya yang salah dan anda sudah sesuai formalitas untuk menilang saya”, aku juga menjawab.
“Iya sich bu, namun saya tidak enak saja”, Kembali dia berbicara dengan nada menyesal.
“Ya telah tidak usah dipikirkan lagi”, sahutku.
“Iya bu terimakasih”, jawabnya.
“Kok bapak tidak bertugas”, tanyaku.
“Saya mohon tidak boleh panggil pak dong, panggil nama saja”, jawabnya.
“Oya maaf. Randi kok tidak tugas?”, tanyaku kembali.
“Saya nanti malam piket bu.”, jawabnya dengan polos.
“Oh… Jadi kesini intinya melulu minta maaf ya?”, tanyaku untuk Randi.
“Iya bu, maaf bu kok sepi emang lokasi tinggal sebesar ini dihuni siapa saja bu?”, tanya Randi.
“Oh… Anak–anak lagi sekolah, bapak dikantor, jadi dirumah hanya aku dan pembantuku, tapi bila aku kerja ya hanya pembantuku”, jawabku jelas.
“Rumah sebesar ini cuman dihuni empat orang plus penolong bu?”, tanyanya kembali.
“Iya mang napa?”, tanyaku kembali.

ceritaabg69.com

Ku akui lokasi tinggal kami memang besar bertingkat, kamar istirahat ada 6, diatas dua dibawah tiga dan satu kamar pembantu. Bagi kamar atas eksklusif kamar aku dan suamiku dan satu kamar atas guna kamar tamu. Anak–anakku punya kamar sendiri–sendiri dibawah.

“Gak apa – apa Cuma tanya aja bu”, begitu jawab Randi.

Pukul telah menunjukan pukul 11.00 WIB kami asik ngobrol. Diwaktu ngobrol asik pembantuku membawa minuman teh bikin Randi dan aku.
“Silahkan diminum Ran”, perintahku sama Randi.
“Iya bu, terimakasih”, jawabnya.
Kami pun merasakan teh yang diciptakan oleh pembantuku. Dan tiba–tiba…

“Ibu cantik sekali”, kata Randi.
“Maaf.. Apa ran?”, aku pura–pura tidak dengar dan tidak banyak kaget.
“Iya ibu cantik sekali, pak Guruh beruntung punya istri kayak ibu yang cantik dan pinter”, katanya pulang memujiku.
“Terimakasih atas pujiannya, namun aku telah berusia 35 tahun jadi dikomparasikan dengan wanita yang seusia anda pasti lebih cantik, apa lagi aku bersuami dan punya anak lagi”, jawabku seraya menyakinkan bila aku bersuami.
“Tapi ibu tetep cantik kok, walaupun punya anak”, dia pulang memujiku.
“Terimakasih ya, namun Randi tidak boleh memuji terus, sebab tidak enak aja kedengaranya”, jawabku halus.
“Apakah saya salah bu, andai kagum terhadap ibu”, dia mulai membujuk lagi.
“Gak salah kok, Cuma tidak enak aja. Apa lagi aku dah bersuami dan anak–anakku dah beranjak dewasa”, jawabku untuk Randi.

Dia berdiri dan duduk disamping kananku. Aku mulai merasa takut, mengherankan pokoknya telah tak karuan perasaanku. Aku tidak banyak menggeser kekiri, dia mengekor geser pula, kesudahannya aku berdiri sebab aku merasa terlecehkan.

“Maaf ran, tidak boleh begitu tidak enak sama pembantuku, lagipula aku dah bersuami”, aku berbicara tegas.

Tapi dia ikut berdiri dan kedua tangannya memegang pundakku dan ditekan kebawah supaya aku kembali–kembali duduk disofa.

“Maaf bu, namun saya benar–benar kagum terhadap ibu, ibu cantik bahkan keelokan ibu mengungguli semua perempuan yang masih berumur belasan tahun. Benar bu ini seluruh kejujuranku terhadap ibu, aku dapat saja mendapatkan perempuan lain namun menuruntuku mereka tidak unik bagiku namun ibu yang unik hatiku”, katanya lugu, apakah dia jujur apa tidak namun yang jelas telah lama suamiku tidak memujiku bahkan nyaris tidak pernah memujiku.

“Maaf Ran aku dah tua, telah punya anak dan suami, aku telah berkeluarga dan aku merasa paling berbahagia dengan keluargaku ketika ini. Jadi kumohon tidak boleh lakukan lagi”, pintaku terhadap Randi walaupun tak pungkiri aku merasa senang dipuji.

Randi mulai mengeluskan tangannya dirambuntuku lurus yang panjang seraya berkata:

“Ibu, aku tidak bermaksud merusak kebahagiaan ibu, namun aku melulu mengatakan bila aku suka sama ibu meski umurku lebih muda tujuh tahun dibawah ibu. Tapi menurutku ibu tetap cantik dan menarik.”

Dia mulai berani memeluk aku. Jantungku berdebar tak karuan, aku berontak namun dia tetap tidak mencungkil pelukannya.

“cukup Randi, kamu tidak boleh kurang ajar gini dong”, gerutuku masih dalam peluknya.
“Coba nikmati bu, tidak boleh berpikiran ibu berkhianat terhadap suami ibu, namun berpikirlah bagaimana supaya ini terasa indah”, begitu katanya menyakinkanku.

Dilepas pelukannya dan dia memandangi wajahku. Dan kuakui dia anak yang tampan. Dan tanpa sadar dia telah menghirup pipiku, dia melihatku dengan mata sayu kemudian tiba-tiba dia mulai menghirup pipiku kembali. Ku akui aku merasakan ciuman mesranya dipipiku.

Dia pulang memelukku, namun ini apa yang kurasakan dia menjilati kupingku, terus menjilati leherku pulang lagi kekuping terus menerus, aku melulu diam terpaku, kesudahannya aku mendesis lirih.

Dan laksana kehilangan kontrol akupun menjawab menjilati kuping. Randi menjawab tidak kalah jilatannya. Napasku terengah engah tanda napsuku mulai naik. Ternyata dia tahu aku sudah terangsang dengan tingkahnya.

Tiba-tiba tangan kirinya dia taruh ke pahaku. Tetapi ketika aku tidak mengindikasikan reaksi, tangan Randi mulai mengelusi pahaku lantas menaikkan elusannya ke peruntuku lantas ke dadaku. Aku tepis kuat-kuat. Aku bisikkan supaya jangan tidak sopan padaku. Dia tunjukkan celana dalamnya yang sudah terdorong mencuat sebab tongkolnya yang ngaceng berat seraya telunjuknya menunjuk bibirnya supaya aku diam. Kemudian dia perosotkan celananya sampai tongkolnya yang lumayan gede dan ujung kepalanya yang merah berkilatan tersebut nampak tegak kaku mencuat dari rimbunan bulunya yang masih halus tipis.

Aku kaget banget dengan ulah Randi ini. Yang aku takuntukan kalau-kalau pembantuku mendengar, masuk ke ruang tamu dan menyaksikan apa yang terjadi di ruang tamu ini. Bisa-bisa aku dirasakan serong sedangkan suamiku masih sedang di kantor. Aku berontak guna berdiri dan meninggalkan ruang tamu. Tetapi Randi lebih sigap dan kuat. Direnggutnya rambutku dengan kasar sampai aku hampir terjatuh. Kemudian dengan paksa mukaku ditundukkan ke arah selangkangannya. Dia arahkan tongkolnya ke mulutku. Dia maksudkan supaya aku mengulumnya. Kurang ajar dan kebangetan banget, nih anak. Tahu bahwa terdapat pembantuku di dapur dia berani mencoba mengerjakan macam ini padaku.
Tapi aku tetap tidak mau.

ceritaabg69.com

Dengan lembut dia menidurkan aku disofa dan dengan lembut pula tanpa kata kata, dia membuka kancing bajuku dan dia menyentuh kedua bukit kembarku, aku mendesis desis.

Dia lepas bukit kembarku dan berdiri sambil memblokir celananya pulang yang sempat dikeluarkan penisnya. Dia berkata:
“Bu, anda kekamar ibu, dan suruh penolong ibu pergi kemana gitu biar anda senang–senang tanpa terdapat yang memganggu…”
Aku diam terpaku dan masih bimbang apakah aku menerimanya apa menolaknya, apa aku telah berselingkuh. Aku masih terdiam sedangkan Randi menantikan jawabanku. Aku masih beranggapan apa aku mesti menampar muka Randi dan mengusirnya. Tapi jujur kuakui bila perilaku Randi menciptakan aku terangsang. Dan akhirnya..

“Bi.. Bibi..”, Aku memanggil pembantuku.
Pembantuku datang dengan lari–lari kecil dan menyahut panggilanku.
“Ada apa bu?”
“Bibi kini ke pasar beli buah bikin persediaan anak–anak”, perintahku.
Kebetulan buah–buahan yang dikulkas sudah habis.
“Tapi bu, saya sedang masak”, sangkal pembantuku.
“ya telah tinggalkan saja, nanti sekalian mampir ke Rumah santap padang beli lauknya saja buat santap siang anak–anak”, perintahku pulang sama pembantuku.
“Baik bu”, jawab pembantuku.
“Oh ya sekalian jemput dwi ya, berakhir dari beli buah jemput Dwi”, perintahku lagi sama pembantuku. Dwi ialah putraku ke dua ruang belajar satu SMP, seringkali pulang jam dua siang. Anak kesatuku sebab kelas tiga jadi terdapat les tambahan.
“Baik bu”, jawab pembantuku.
Sambil ku beri uang melakukan pembelian barang dan kunci motor aku sempat melirik Randi yang tersenyum–senyum padaku. Akupun belum begitu meresponnya.
Pembantu sudah pergi dan akhirnya bermukim aku dan Randi, sempat menyaksikan jam menunjukan pukul 12. Dan nanti tidak cukup lebih jam 2.15 siang pembantuku bakal kembali bareng anakku, itu dengan kata lain aku masih punya masa-masa 2jam untuk bareng Randi.

Tapi jujur aku masih merasa bingung apa mesti aku kerjakan atau tidak, sebab aku merasa bahagia dengan keluargaku ketika ini juga, tetapi mustahil kupungkiri aku telah merasa terangsang dengan perilaku Randi.
Tiba–tiba Randi berkata.

“Bu, mari keruang keluarga seraya nonton tv”, ajak Randi.

Akupun melangkah keruang family dengan Randi, dan sesudah sampai diruang keluarga, kami duduk di karpet depan tv yang masih hidup. Tanpa basa basi, langsung saja dia merangkulku dan merobohkan aku dikarpet posisiku ditelentangkan, aku melulu protes,
“Rann… apa-apaan siih..”, katanya anda mau ngobrol saja kok begini…”

Dan sambil menggali kaitan BH di belakang tubuhku, dia membalas saja,
“Sebenarnya… aku pengen bu…”

Setelah kaitan BH-ku terlepas, langsung saja BH-ku dimulai dan dijilat payudaraku serta dia menyedot-sedot puting susuku yang putih dan besar dan tanpa sadar aku mengupayakan memasukkan tangan kananku ke dalam celana Randi menggali cari penis yang sempat ditunjukkan kepadaku, tetapi sebab celananya agak sempit sampai-sampai aku kendala memasukkan tanganku dan langsung saja aku berbicara entah sadar apa tidak:
“Ran, bukain celanamu, aku yoo.., kepingin… pegang punyamu”, pintaku.

Dan tanpa melepas puting susuku yang masih dia sedot, dia mulai melepas celana dan celana dalamnya sekaligus sampai-sampai dia kini sudah telanjang bulat dan penisnya yang separuh berdiri tersebut langsung saja kupegang dan segera saja aku berkomentar,
“Ran, kok masih lembek.. Gak kayak tadi?”
“Coba saja di isap… tentu sebentar saja telah tegang, mau?”, tanya Randi.
sambil memandangi wajahku, dan akupun mulai menjilatinya, toh aku pun pernah sama suamiku.

Dia melepas isapan mulutnya di payudaraku dan bangun serta duduk di sekitar kepalaku seraya sedikit dia memiringkan badanku kearahnya dan dengan tidak sabaran langsung saja batang penisnya yang masih separuh berdiri kupegangi dan kepalanya ku jilat-jilat sebentar dan langsung dimasukkan ke dalam mulutku. Dia memutar badanku separuh tengkurap, aku segera saja memaju-mundurkan kepalaku sampai-sampai penisnya terbit masuk di mulutku.
“Aah.., ooh, Buuu… teruss… ooh… enaaknyaa, Bu.. oohh”, kata Randi sambil mengelus rambut di kepalaku dan sesekali dia menjambak dan baru sebentar saja aku menghisap penis Randi, terasa penisnya telah tegang sekali.

Tiba-tiba saja penisnya dikeluarkan dari muluntuku dan langsung dia berkata.
“Buuu…, isap.., lagii.., doong”, pintanya kepadaku.
Tetapi aku membalas dengan tidak banyak meminta.
“Rann… tolong, punya saya juga…”
Ternyata dia langsung memahami apa yang aku inginkan dan langsung saja dia merubah posisi dan dia menjatuhkan dirinya tiduran ke dekat kaki ku dan dia unik celana dalamku turun serta melepas dari badanku.

Dengan perilakunya aku bergerak dan berganti posisi istirahat di atas badan Randi sampai-sampai vaginaku tepat sedang di mulut Randi, maka tanpa bersusah payah dia sibak bulu-bulu vaginaku yang menutupi bibir vaginaku dan setelah tersebut dia membuka bibir vaginaku dengan kedua jari tangannya dan dia menjulurkan lidahnya menusuk ke dalam vaginaku yang telah basah oleh cairan. Ketika ujung lidahnya menyodok kelubang vaginaku, langsung saja ku mengurangi pantatku ke wajahnya sampai-sampai terasa dia susah bernafas dan langsung ku kocok-kocok penis Randi dengan jari tanganku.

Ketika lidahnya menjelajahi semua bagian vaginaku dan bibir vaginaku tetap dia pegangi, aku kemudian menaik-turunkan pantatku dengan cepat dan aku merasa keasyikan dijilati. Aku mendesah yang agak keras sebab terlalu nikmat.

“ooh… Ran, aahh teruus.. Ran, aduuh… enak.. Ran… Ran… ooh…”, desahku.

Dan sesekali clitorisku yang tidak banyak menonjol tersebut dan telah mulai terasa mengeras, dia hisap-hisap dengan mulutnya sampai-sampai desahan demi desahan terbit dari mulutku, “ooh… itu.., Rannn, enaak, Sayang”, desahku kesenangan dengan perilaku Randi.

Dan aku mencungkil pegangan dipenisnya Randi dan Aku menjatuhkan diri dari atas tubuhnya dan istirahat telentang seraya memanggilnya.
“Rann, sayang, sini, Saya telah nnggak tahaan… ayoo… sini… Raann”, memintaku sama Randi sang polisi muda.

Dia segera saja bangun dan membalik badannya serta dia menaiki tubuhku dan aku saat tubuhnya telah berada di atasku, aku membuka kakiku lebar-lebar dan dia tempatkan kakinya salah satu kedua kakiku. Dengan nafas terengah engah dan mengupayakan memegang penisnya aku berkata,
“Raann.., cepat dong, masukin. Saya telah tidak tahan.”
“Tunggu sayang, biar Aku saja yang masukin sendiri”, kata Randi sambil mengalihkan ke atas, tanganku yang tadi mengupayakan memegang penisnya namun rupanya aku akui telah tidak sabaran kemudian kembali aku berkata.
“Rann, ayoh dong, cepetaan, dimasukiin, punyamu itu!”, aku memintanya kembali.
Dan tiba–tiba Randi memegang penisnya dan menggesek-gesekkan di belahan bibir vaginaku sejumlah kali dan lantas dia mulai mengurangi ke dalam serta,
“Blees”, terasa dengan mudahnya penisnya masuk ke dalam lubang vaginaku dan aku terkaget bersamaan penis Randi masuk kedalam vaginaku.
“Aduh… Raan”, aku sambil memeluk Randi erat-erat.
“Sakit, sayang?”, tanya Randi.
Dan aku melulu menggelengkan kepalaku tidak banyak dan aku menciumi disekitar telinga Randi aku juga berbisik,
“Enaak, Rann…”, aku mendesis.

Dia menciumi wajahku dan sesekali dia hisap bibirku seraya dia mengawali menggerakkan pantatnya naik turun pelan-pelan, aku mencengkram punggungnya Randi dengan keras. Dan aku berbicara sambil merasakan goyangan pantat Randi.
“Ran, jajaki diamkan dulu pantatmu itu…”, pintaku sama Randi.
Ran juga menuruti saja permintaanku. Aku langsung mempermainkan otot-otot vagina kenikmatanku, dan Randi terasa penisnya laksana di pijat-pijat serta tersedot-sedot dan jepitan serta sedotan vaginaku semakin lama semakin kencang sampai-sampai penisnya terasa begitu nikmat dan akupun menikmatinya. Dan ternyaya Randi terlena keenakan.

“oohh… sshh… Bu… enaknya… ooh… terus Bu, aduuh, enaak!”, Randi merasa merasakan sedotan vaginaku.
Dan Randi telah tidak dapat bermukim diam saja, langsung pantatnya naik turun sampai-sampai penisnya terbit masuk lubang vaginaku serta tersiar bunyi, “Crreett… crettt…”, secara beraturan cocok dengan gerakan penisnya terbit masuk vaginaku yang sudah paling basah dan becek.

“Rannn, cabut dulu punyamu, biar aku lap dulu punyaku sebentar”, kataku sama Randi.
“Biar saja Bu… nikmat begini kok”, sahutnya seraya meneruskan gerakan penisnya naik turun semakin cepat dan aku tidak menyimak jawabannya sebab merasa kesenangan yang paling enak.

“ooh… sshh… aakk, aduuh, Raan, teruskan Rann, ooh..”, seraya mempercepat goyangan pinggulku serta kedua tanganku yang dipunggungnya tidak jarang kali menekan-nekan disertai sesekali aku menyempitkan lubang vaginaku sampai-sampai terasa penisnya terjepit-jepit dan aku merasakan hal laksana ini.
“ooh.. Bu… sshh.. oohh.. enaak.., Buuu.. aku, aku telah nggak kuat, mau… keluarr, Bu…”, desahanknya yang telah tidak powerful lagi menyangga keluarnya air maninya.
“Rann, ayoo… Ran aduuh, ooh… Aku juga, ayoo sekaraang, aakkrr.., Sayang”, dan dia melepas air maninya semuanya ke dalam vaginaku seraya dia mengurangi penisnya kuat-kuat dan aku juga mendekapnya dengan sekuat tenagaku.
Baru kini kuraih kesenangan yang luar biasa. Sungguh aku merasa nikmat, meski aku merasa bersalah terhadap keluargaku.

Dia terkapar di atas badanku dengan nafas ngos-ngosan demikian pun dengan nafasku yang paling cepat. Setelah nafas kami mulai mereda, kemudian dia berkata,
“Bu, aku cabut ya punyaku”, dan sebelum dia menguras perkataannya, aku cengkeram punggungnya dengan kedua tanganku dan aku berkata.
“Jangaan duluu, Rann, Aku masih ingin… punyamu tetap terdapat di dalam.”

Dia juga menuruti kata–kataku. Setelah agak lama dalam vaginaku, dikeluarkan penisnya dari vaginaku. Kamipun membereskan diri.

Setelah kulihat jam ternyata mengindikasikan pukul 13.15, Randi juga berpamitan akan kembali sambil melumat bibirku. Aku pun menjawab ciuman mulutnya.

“Terimakasih bu, aku paling puas”, kata Randi berbisik dikupingku.

Aku melulu diam tak menjawab, Randi juga langsung terbit rumah dan pergi.
Aku merasa mengherankan dengan diriku, aku menghianati suamiku dan keluargaku namun hati kecilku meras senang dengan kejadian ini.

Setelah kejadian ini aku merasa bersalah dengan keluargaku, aku mengupayakan untuk membetulkan sikapku. Tapi masing-masing malam aku merasa kangen dengan Randi. Bahkan saat bersangkutan dengan suamiku aku menginginkan dengan Randi yang paling lihai menciptakan aku gampang terangsang.

Aku dan Randi juga memanfaatkan hari kamis dimana aku cuti kerja dan dia piket malam hari. Sampai ketika ini aku dan Randi masih berhubungan, sesekali kami sexs phone, atau sexs sms.

Aku memang ibu yang tak tahu diuntung dan tidak cukup bersyukur dengan kebahagiaanku ketika ini.
Beginilah ceritaku, kutulis di website ini. Dan jujur aku tahu website ini dari Randi, aku juga menulis cerita ku ini atas permintaan Randi.