Cerita Sex | Kisah Suara Desahan Pramugari Cantik

Cerita Sex | Kisah Suara Desahan Pramugari Cantik

Cerita Sex | Kisah Suara Desahan Pramugari Cantik – Malam sudah larut dimana jarum jam menunjukkan pukul 23:15. Suasana sepi menyelimuti suatu kost-kostan yg terletak sejumlah kilometer dari Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng. Kost-kostan tersebut tempatnya agak jauh dari keramaian sampai-sampai menjadi lokasi favorit untuk siapa saja yg mengharapkan suasana tenang dan sepi.

Kost-kostan yg mempunyai jumlah kamar menjangkau 30 kamar tersebut terasa sepi sebab memang baru saja dimulai untuk disewakan,hanya sejumlah kamar saja yg telah ditempati, sampai-sampai suasananya dikala siang atau malam lumayan lengang. Saat tersebut hujan turun cukup deras, akan namun nampak sesuatu sudah terjadi disalah satu kamar dikost-kostan itu.

Seiring dengan turunnya air hujan, air mata Shanti pun mulai turun berlinang disaat lelaki tersebut mulai menyentuh tubuhnya yg telah tidak berdaya itu. Saat ini tubuhnya telah dalam dominasi para pria itu, rasa keputus asaan dan fobia datang menyelimuti dirinya. Beberapa menit yg kemudian secara tiba- mendarat dirinya diseregap oleh seseorang pria disaat dia masuk kedalam kamar kostnya setibanya dari suatu tugas penerbangan.

Kedua tangannya langsung diikat kebelakang dengan seutas tali, mulutnya disumpal dengan kain dan setelah tersebut tubuhnya dicampakkan oleh lelaki tersebut keatas lokasi tidurnya. Ingin rasanya dia berteriak meminta pertolongan untuk teman-temannya akan namun kendaraan antar jemput yg tadi mengantarkannya kelihatannya sudah jauh pergi meninggalkan kost-kostan ini, sebenarnya didalam kendaraan tersebut tidak sedikit teman-temannya sesama karyawan.

Shanti Septiani ialah seorang Pramugari pada suatu penerbangan swasta, usianya baru memasuki 19 tahun, wajahnya cantik imut-imut, postur tubuhnya tinggi dan langsing proporsional. Dengan dianugerahi penampilan yg cantik ini sangat mempermudah baginya guna diterima bekerja sebagai seorang pramugari.

Demikian pula dengan karirnya dalam masa-masa yg singkat sebab kecantikannya itulah dia sudah menjadi sosok primadona di perusahaan penerbangan itu. Banyak pria yg berjuang merebut hatinya, baik tersebut sesama karyawan ditempatnya bekerja atau kawan-kawan lainya. Namun karena dalil masih hendak berkarir maka dengan secara halus maksud-maksud dari semua lelaki tersebut ditolaknya. Akan namun tidak semua pria memahami atas sikap dari Shanti itu.

Indra ialah salah satu dari orang yg tidak dapat menerima sikap Shanti terhadap dirinya. Kini dirinya bareng dengan seorang temannya telah mengerjakan seuatu perhitungan terhadap Shanti. Rencana busuk dilakukannya terhadap Shanti. Malam ini mereka sudah menyergap Shanti dikamar kostnya.

Indra ialah satu dari sekian banyaknya pria yg membubuhkan hati untuk dirinya, akan namun Indra bukanlah seseorang yg dikenalnya dengan baik sebab kedudukannya bukanlah seorang karyawan penerbangan ditempatnya bekerja atau kawan-kawannya yg lain, tetapi dia ialah seorang tukang batu yg bekerja dibelakang kost-kostan ini.

Ironisnya, Indra yg berusia separuh abad lebih dan melebihi umur ayah Shanti tersebut lebih tidak jarang menghalalkan segala teknik dalam menemukan sesuatu, maklumlah dia bukan seseorang yg terdidik. Segala tingkah laku dan perbuatannyapun ingin kasar, sebab memang dia hidup dilingkungan orang-orang yg bertabiat kasar. “Huh rasakan kau gadis congkak !”, bentaknya untuk Shanti yg tengah tergolek dikasurnya. “Aku dapatkan kau sekarang….!”, lanjutnya.

Sejak perjumpaannya kesatu dengan Shanti sejumlah bulan yg lalu, Indra langsung jatuh hati untuk Shanti. Dimata Indra, Shanti laksana bidadari yg turun dari khaygan sampai-sampai selalu muncul didalam lamunnanya. Diapun berniat guna menjadikannya sebagai istri yg ke-4. Bak bukit memimpikan bulan, Indra tidak berdaya guna mewujudkan impiannya itu.

Predikatnya sebagai tukang batu, duda dari 3 kali perkawinan, berusia 51 tahun, lusuh dan kurang mampu menghanyutkan impiannya guna dapat mendekati sang bidadari itu. Terlebih-lebih ada sejumlah kali kejadian yg paling menyakitkan hatinya berhubungan dengan Shanti sang bidadari baygannya itu. Sering tegur sapanya diperhatikan oleh Shanti, tatapan mata Shantipun tidak jarang kali sinis terhadap dirinya.

Lama kelamaan didalam diri Indra tumbuh subur rasa benci terhadap Shanti, evaluasi terhadapnyapun berubah, rasa kagumnya telah pulang menjadi benci tetapi gairah nafsu sex terhadap Shanti tetap bersemi didalam dirinya tumbuh subur menghantui dirinya sekitar ini. Akhirnya dipilihlah suatu jalan pintas guna melampiaskan nafsunya itu, kalaupun cintanya tidak bisa paling tidak dia dapat merasakan tubuh Shanti pikirnya.

Jadilah malam ini Indra mengerjakan aksi nekat, diapun menyatukan hatinya guna memberi pelajaran untuk Shanti sekaligus melampiaskan nafsunya yg sekitar ini mulai tumbuh secara subur didalam dirinya. Kini sang bidadari tersebut telah terbaring dihadapannya, air matanyapun telah mengairi wajahnya yg putih bersih itu. “Lihat aku…..!”, hardiknya sambil memegang kepala Shanti dan menghadapkan kewajahnya. “Hmmmphh….!!”, jeritnya yg terbendung oleh kain yg menyumpal dimulutnya, mata Shanti juga melotot saat menyadari bahwa ketika ini dia sudah berhadapan dengan Indra seseorang yg dibencinya.

Hatinya juga langsung ciut dan tergetar tatkala Indra yg berada dihadapannya tertawa sarat dengan kemenangan, “Hahaha….malam ini anda jadi pemuasku, gadis cantik”. Keringatpun langsung mengucur deras mengairi tubuh Shanti, wajahnya nampak tersirat rasa fobia yg dalam, dia menyadari betul bakal apa-apa yg akan terjadi terhadap dirinya.

Disaat laksana inilah dia menyadari betul bakal ketidak berdayaan dirinya, rasa sesal mulai muncul didalam hatinya, bakal sikap- sikapnya yg tidak berhati-hati terhadap Indra. Kini dihadapan Shanti, Indra mulai mencungkil baju kumalnya satu persatu sampai akhirnya telanjang bulat. Walaupun sudah berusia separuh abad lebih, namun sebab pekerjaannya sebagai buruh kasar maka Indra mempunyai tubuh yg atletis, badannya hitam legam dan kekar, sejumlah buah tatto menghiasi dadanya yg bidang itu. Isak tangis mulai terbit dari mulut Shanti, disaat Indra mulai menghampiri ketubuhnya.

Tangan kanannya memegang batang kemaluannya yg sudah tegak berdiri tersebut dan diarahkannya kewajah Shanti. Melihat ini Shanti berjuang memalingkan wajahnya, tetapi tangan kiri Indra secepat kilat mencengkram erat kepala Shanti dan mengalihkannya lagi serupa menghadap ke batang kemaluannya.. Dan setelah tersebut dioles-oleskannya batang kemaluannya tersebut diwajah Shanti, dengan tubuh yg bergetar Shanti hanya dapat memejamkan matanya dengan erat sebab merasa ngeri dan jijik diperlakukan laksana itu.

Sementara kepala tidak dapat bergerak-gerak sebab dicengkraman erat oleh tangan Indra. “Ahhh…. perkenalkan rudal gue ini sayg….. akhhh….” ujarnya seraya terus mengoles-oleskan batang kemaluannya diwajah Shanti, memutar-mutar dibagian pipi, dibagian mata, dahi dan hidungnya.

Melalui batang kemaluannya tersebut Indra tengah merasakan kehalusan wajah Shanti. “Hai cantik !….sekarang telah kenal kan dengan kontol gue ini, seberapa mahal sih wajah cantik elo tersebut hah ? kini kena deh ama kontol gue ini….”, sambungnya. Setelah puas dengan itu, sekarang Indra mendorong tubuh Shanti sampai kembali terjatuh kekasurnya.

Sejenak dikaguminya tubuh Shanti yg tergolek tak berdaya ditempat tidurnya itu. Baju seragam pramugarinya masih melekat apik dibadannya. Baju dalaman putih dengan dasi kupu-kupu berwarna biru diblokir oleh blazer yg berwarna kuning tua serta rok pendeknya yg berwarna biru seolah semakin membangunkan birahi Indra, lagipula roknya agak tersingkap sampai pahanya yg putih mulus tersebut terlihat.

Rambutnya yg panjang sebahu masih digelung sementara tersebut topi pramugarinya sudah tergeletak jatuh disaat penyergapan lagi. “Hmmpphhh… mmhhh…”, kelihatannya Shanti hendak mengucapkan sesuatu kepadanya, namun apa perdulinya paling-paling hanya permintaan ampun dan belas kasihan.

Tanpa melemparkan waktu lagi sekarang diputarnya tubuh Shanti menjadi tengkurap, kedua tangannya yg terbelenggu kebelakang menempel dipunggung sedangkan dada dan wajahnya menyentuh kasur. Kedua tangan kasar Indra tersebut kini mengusap-usap unsur pantat Shanti, dialami olehnya pantat Shanti yg sekal.

Sesekali tangannya menyabet unsur itu laksana seorang ibu yg tengah menyabet pantat anaknya yg badung “Plak…Plak…”. “Wah sekal sekali pantatmu…”, ujar Indra seraya terus mengusap-usap dan memijit- mijit pantat Shanti. Shanti melulu diam pasrah, sedangkan tangisannya terus terdengar.

Tangisnya tersiar semakin keras saat tangan kanan Indra secara perlahan-lahan mengelus kaki Shanti mulai dari betis naik terus kebagian paha dan kesudahannya menyusup masuk kedalam roknya sampai menyentuh kebagian selangkangannya. Sesampainya dibagian itu, di antara jari tangan kanan Indra, yakni jari tengahnya menyusup masuk kecelana dalamnya dan langsung menyentuh kemaluannya.

Kontan saja urusan ini menciptakan badan Shanti agak menggeliat, dia mulai tidak banyak meronta-ronta, tetapi jari tengah Indra tadi langsung menusuk lobang kemaluan Shanti. “Egghhmmmmm…….”, Shanti menjerit badannya mengejang tatkala jari telunjuk Indra masuk kedalam liang kewanitaannya itu.

Badan Shantipun langsung menggeliat- geliat laksana cacing kepanasan, saat Indra memainkan jarinya tersebut didalam lobang kemaluan Shanti. Dengan tersenyum terus dikorek- koreknyalah lobang kemaluan Shanti, sementara tersebut badan Shanti menggeliat-geliat jadinya, matanya merem-melek, mulutnya menerbitkan rintihan- rintihan yg teredam oleh kain yg menyumpal mulutnya tersebut “Ehhmmmppphhh…. mmpphhhh…..”.

Setelah sejumlah menit lamanya, kemaluan Shantipun menjadi basah oleh cairan kewanitaannya, Indra lantas mencabut jarinya. Tubuh Shantipun dibalik sampai-sampai posisinya terlentang. Setelah tersebut roknya disingkapkan keatas sampai rok tersebut melingkar dipinggulnya dan celana dalamnya yg berwarna putih tersebut ditariknya sampai bagian bawah Shanti sekarang telanjang.

Terlihat oleh Indra, kemaluan Shanti yg indah, tidak banyak bulu-bulu tipis yg tumbuh mengitari lobang kemaluannya yg sudah membengkak itu. Dengan bernafsunya direntangkan kedua kaki Shanti sampai mengangkang setelah tersebut ditekuknya sampai kedua pahanya menyentuh ke unsur dada.

Wajah Shanti semakin tegang, tubuhnya gentar, seragam pramugarinyapun sudah basah oleh keringat yg deras memenuhi tubuhnya, Indra bersiap-siap mengerjakan penetrasi ketubuh Shanti. “Hmmmmpphhh………. hhhhhmmmmppp…. ..”, Shanti menjerit dengan tubuhnya yg mengejang saat Indra mulai menanamkan batang kemaluannya didalam lobang kemaluan Shanti. Matanya terbelalak menygga rasa sakit dikemaluannya, tubuhnya menggeliat-geliat sedangkan Indra terus berjuang menancapkan semua batang kemaluannya.

Memang agak susah di samping Shanti masih perawan, usianyapun masih termasuk muda sampai-sampai kemaluannya masih paling sempit. Akhirnya dengan sekuat tenaganya, Indra sukses menanamkan semua batang kemaluannya didalam vagina Shanti. Tubuh Shanti berguncang-guncang disaat tersebut karena dia menangis menikmati sakit dan pedih tak terkirakan dikemaluannya itu.

Dia juga menyadari bahwa malam tersebut keperawanannya kesudahannya terenggut oleh Indra. “Ahh….kena kau kini !!! kesudahannya Gue sukses mendapatkan perawan elo !”, bisiknya ketelinga Shanti. Hujanpun semakin deras, suara guntur membahana memiawakkan telinga. Karena hendak mendengar suara rintihan gadis yg sudah ditaklukkannya itu, dibukannya kain yg semenjak tadi menyumpal mulut Shanti. “Oouuhhh….. baang…. saakiitt… banngg…. amp uunn …”, rintih Shanti dengan suara yg megap- megap.

Jelas Indra tidak perduli. Dia malahan langsung menggenjot tubuhnya memopakan batang kemaluannya terbit masuk lobang kemaluan Shanti. “Aakkhh…. ooohhhh…. oouuhhhh…. ooohhhggh… .”, Shanti merintih-rintih, disaat tubuhnya digenjot oleh Indra, badannyapun semakin menggeliat-geliat.

Tidak disadarinya malah badannya yg menggeliat-geliat tersebut malah memancing nafsu Indra, sebab dengan begitu otot-otot dinding vaginanya justeru semakin ikut mengurut-urut batang kemaluan Indra yg tertanam didalamnya, karenanya Indra merasa semakin nikmat. Menit-menitpun selesai dengan cepat, masih dengan sekuat tenaga Indra terus menggenjot tubuh Shanti, Shantipun nampak semakin kepayahan sebab sekian lamanya Indra menggenjot tubuhnya.

Rasa pedih dan sakitnya seolah sudah hilang, erangan dan rintihanpun sekarang melemah, matanya mulai separuh tertutup dan melulu bagian putihnya saja yg terlihat, sementara tersebut bibirnya menganga menerbitkan alunan-alunan rintihan lemah, “Ahhh….. ahhhh… oouuhhhh…”. Dan kesudahannya Indrapun berejakulasi di lobang kemaluan Shanti, kemaluannya menyemburkan cairan kental yg spektakuler banyaknya mengisi rahim Shanti. “A..aakkhhh…..”, seraya mengejan Indra melolong panjang bak srigala, tubuhnya mengeras dengan kepala menengadah keatas.

Puas telah dia menyetubuhi Shanti, rasa puasnya berlipat-lipat baik tersebut puas sebab telah menjangkau klimaks dalam seksnya, puas dalam menaklukan Shanti, puas dalam merobek keperawanan Shanti dan puas dalam memberi pelajaran untuk gadis cantik itu. Shanti menyambutnya dengan mata yg secara tiba-tiba terbelalak, dia sadar bahwa pasangannya sudah berejakulasi sebab disakannya terdapat cairan-cairan hangat yg menyembur memenuhi vaginanya.

Cairan kental hangat yg bercampur darah tersebut memenuhi lobang kemaluan Shanti hingga sampai meluber terbit membasahi paha dan sprei kasur. Shanti yg menyadari tersebut semua, mulai menangis namun sekarang tubuhnya telah lemah sekali. Dengan mendesah puas Indra merebahkan tubuhnya diatas tubuh Shanti, sekarang kedua tubuh tersebut jatuh lunglai laksana tak bertulang.

Tubuh Indra nampak terguncang-guncang sebagai dampak dari isak tangis dari Shanti yg tubuhnya tertindih tubuh Indra. Setelah sejumlah menit tidak mempedulikan batang kemaluannya tertanam dilobang kemaluan Shanti, sekarang Indra mencabutnya sambil bangkit dari tubuh Shanti. Badannya berlutut mengangkangi tubuh lunglai Shanti yg terlentang, kemaluannya yg nampak telah melemas tersebut kembali sedikit- demi tidak banyak menegang disaat merapat kewajah Shanti.

Dikala telah benar-benar menegang, tangan kanan Indra sekonyong-konyong meraih kepala Shanti. Shanti yg masih meringis-ringis dan menangis tersedu-sedu itu, terkejut dengan perbuatan Indra. Terlebih-lebih menyaksikan batang kemaluan Indra yg sudah menegang tersebut berkedudukan serupa dihadapan wajahnya.

Belum lagi sempat menjerit, Indra telah mencekoki mulutnya dengan batang kemaluannya. Walau Shanti berjuang berontak tetapi akhirnya Indra sukses menanamkan penisnya tersebut kemulut Shanti. Nampak Shanti laksana akan muntah, sebab mulutnya menikmati batang kemaluan Indra yg masih basah oleh cairan sperma itu.

Setelah tersebut Indra pulang memopakan batang kemaluannya didalam rongga mulut Shanti, wajah Shanti memerah jadinya, matanya melotot, sesekali dia terbatuk-batuk dan bakal muntah. Namun Indra dengan santainya terus memompakan terbit masuk didalam mulut Shanti, sesekali pun dengan gerakan memutar-mutar. “Aahhhh….”, seraya memejamkan mata Indra menikmati kembali kesenangan di batang kemaluannya tersebut mengalir kesekujur tubuhnya.

Rasa dingin, basah dan geli dirasakannya dibatang kemaluannya. Dan akhirnya, “Oouuuuhhhh… Shanti… sayggg… ..”, Indra mendesah panjang saat kembali batang kemaluannya berejakulasi yg sekarang dimulut Shanti. Dengan terbatuk-batuk Shanti menerimanya, meski sperma yg dimuntahkan oleh Indra jumlahnya tidak tidak sedikit namun lumayan memenuhi rongga mulut Shanti sampai meluber mengairi pipinya.

Setelah memuntahkan spermanya Indra menarik keluar batang kemaluannya dari mulut Shanti, dan Shantipun langsung muntah-muntah dan batuk-batuk dia nampak berjuang untuk menerbitkan cairan-cairan tersebut namun mayoritas sperma Indra tadi sudah mengalir masuk ketenggorokannya.

Saat ini wajah Shanti telah acak- acakan akan namun kecantikannya masih terlihat, sebab memang keelokan dirinya ialah kecantikan yg alami sampai-sampai dalam situasi apapun tidak jarang kali cantik adanya. Dengan wajah puas seraya menyadarkan tubuhnya didinding kasur, Indrapun menyeringai menyaksikan Shanti yg masih terbatuk-batuk.

Indra menyimpulkan untuk beristirahat sejenak, mengoleksi kembali tenaganya. Sementara tersebut tubuh Shanti mendekam dikasur seraya terisak-isak. Waktupun berlalu, jam didinding kamar Shanti telah mengindikasikan pukul 1 dinihari. Sambil santai Indrapun menyempatkan diri mengorek-ngorek isi laci lemari Shanti yg terletak disamping lokasi tidur.

Dilihatnya album foto- potret pribadi kepunyaan Shanti, nampak wajah-wajah cantik Shanti menghiasi isi album itu, Shanti yg elegan dalam pakaian seragam pramugarinya, nampak cantik pun dengan baju muslimnya menyeluruh dengan cairan kental saat foto bareng keluarganya ketika lebaran kemarin dikota asalnya yakni Bandung.

Kini gadis cantik tersebut tergolek lemah dihadapannya, separuh badannya telanjang, kemaluannya nampak membengkak. Di samping itu, ditemukan pula sejumlah lembar dana yg berjumlah 2 jutaan lebih serta perhiasan emas didalam laci itu, dengan tersenyum Indra memasukkan tersebut semua kedalam kantung celana lusuhnya, “Sambil menyelam minum air”, batinnya. Setelah separuh jam lamanya Indra bersitirahat, sekarang dia bangkit mendekati tubuh Shanti.

Diambilnya suatu gunting besar yg dia temukan tadi didalam laci. Dan setelah tersebut dengan gunting itu, dia melucuti baju seragam pramugari Shanti satu persatu. Singkatnya sekarang tubuh Shanti sudah telanjang bulat, rambutnyapun yg hitam lurus dan panjang sebahu yg tadi digelung rapi sekarang digerai oleh Indra sehingga meningkatkan keindahan menghiasi punggung Shanti.

Sejenak Indra mengagumi keindahan tubuh Shanti, kulitnya putih bersih, pinggangnya ramping, payudaranya yg tidak terlampau besar, kemaluannya yg meski nampak bengkak tetapi masih terlihat estetis menghias selangkangan Shanti. Tubuh Shanti nampak sarat dengan kepasrahan, badannya pulang tergetar menunggu akan apa-apa yg bakal terjadi terhadap dirinya.

Sementara tersebut hujan diluar masih turun dengan derasnya, udara dingin mulai masuk kedalam kamar yg tidak terlampau besar itu. Udara dingin itulah yg kembali membangunkan nafsu birahi Indra. Setelah nyaris sejam lamanya memberi istirahat untuk batang kemaluannya sekarang batang kemaluannya pulang menegang.

Dihampirinya tubuh telanjang Shanti, “Yaa…ampuunnn bangg…udah dong….Shanti mohon ampunn bangg…oohhh….”, Shanti nampak memelas memohon-mohon untuk Indra. Indra melulu tersenyum saja mendengar tersebut semua, dia mulai meraih badan Shanti. Kini dibaliknya tubuh telanjang Shanti itu sampai dalam posisi tengkurap.

Setelah tersebut ditariknya tubuh itu sampai ditepi lokasi tidur, sampai-sampai kedua lutut Shanti menyentuh lantai sedangkan dadanya masih menempel kasur dipinggiran lokasi tidur, Indrapun berada dibelakang Shanti dengan posisi menghadap punggung Shanti. Setelah tersebut kembali direntangkannya kedua kaki Shanti selebar bahu, dan…. “Aaaaaaaaakkkkhh………”, Shanti melolong panjang, badannya mengejang dan terangkat dari lokasi tidur disaat Indra menanamkan batang kemaluannya didalam lobang anus Shanti.

Rasa sakit tiada tara kembali dialami didaerah selangkangannya, dengan agak sulit payah pulang Indra sukses menanamkan batang kemaluannya didalam lobang anus Shanti. Setelah tersebut tubuh Shantipun pulang disodok-sodok, kedua tangan Indra meraih payudara Shanti serta meremas-remasnya.

Setengah jam lamnya Indra menyodomi Shanti, masa-masa yg lama untuk Shanti yg semakin tersiksa itu. “Eegghhh…. aakkhhh…. oohhh…”, dengan mata merem-melek serta tubuh tersodok- sodok Shanti merintih-rintih, sementara tersebut kedua payudaranya diremas-remas oleh kedua tangan Indra.

Indra kembali menikmati akan menemukan klimaks, dengan gerakan secepat kilat dicabutnya batang kemaluan tersebut dari lobang anus Shanti dan dibaliklah tubuh Shanti itu sampai kini posisinya terlentang. Secepat kilatpula dia yg sekarang berada diatas tubuh Shanti menghujamkan batang kemaluannya pulang didalam vagina Shanti. “Oouuffffhhh……”, Shanti mengerang dikala Indra menanamkan batang kemaluannya itu.

Tidak lama sesudah Indra memompakan kemaluannya didalam liang vagina Shanti “CCREETT…. CCRROOOT… CROOTT…”, pulang penis Indra memuntahkan sperma mengairi rongga vagina Shanti, dan Shantipun terjatuh tak sadarkan diri. Fajar sudah menjelang, Indra nampak meninggalkan kamar kost Shanti dengan tersenyum sarat dengan kemenangan.

Sebatang cerutu menemaninya dalam perjalanannya kesebuah stasiun bus antar kota, sementara tersebut sakunya sarat dengan lembaran duit dan perhiasan emas. Entah apa yg bakal terjadi dengan Shanti sang pramugari cantik imut-imut itu, apakah dia masih memasarkan mahal dirinya. Entahlah, yg jelas sesudah dia sukses menikmati gadis cantik itu, urusan tersebut bukan urusannya lagi…

CeritaABG69.com – Cerita dewasa 18+ terbaru bergambar dan sedarah

Cerita sex abg 18 tahun terbaru | cerita sex dewasa | cerita sex sedarah | cerita sex bergambar | cerita sex terbaru | posisi bercinta | gaya bercinta | cerita sex tante | cerita sex hot | cerita sex selingkuh | cerita sex pembantu | Kumpulan cerita sex