Cerita ABG69 | BERCINTA DENGAN TEMAN ISTRIKU

Cerita ABG69 | BERCINTA DENGAN TEMAN ISTRIKU – Aku sedang menyaksikan tv di kamar ku saat Sheila keluar dr wc menggunakan baju tidurnya. Hm… ia pasti baru cuci muka dan bersih2 untuk tidur. Dikamar istirahat Kita memang ada kamar mandi dan televisi, sampai-sampai Aku menyaksikan televisi sampai ketiduran. Sheila
berbaring di samping ku, dan memejam kan matanya. Lho!? Dia langsung mau istirahat ni! Padahl Aku sudah dari tadi menantikan dia. Lihat aja, si “otong” sudah bangun menunggu jatahnya.

“Sheila! Koq langsung istirahat sih?….. Mm..?

ceritaabg69.com

Sheila membuka mata. Lalu dia ddk & menatap ku. lalu dia tersenyum manis. Woow….. kemaluanku semakin mengeras. Sheila mendekatkan wajahnya ke wajahku. Tangannya yg lembut mengelus wajah ku. Jantung ku berdebar kencang. Ku rangkul tubhnya yg mungil & hangat. Terasa sanagt nyaman sekali. Sheila menciumi pipi ku.
Cuppp..!
Tidur yg lelap yaa….. katanya dengan perlahan. Lalu dia kembali berbaring & memejam kan matanya. Tidur! Nah lho?! Apes benar. Hanya begitu saja? Aku bengong sesaat.
Sheila! Sheiill..!” Aku mengguncang tubuhnya.
Umm…… udah malem.. Sheila ngantuk niiih..
Kalau udah begini, sia-sia saja. Dia tdk bakal bangun. Pdhl Aku sedang sangek dan perlu pernyaluran. Si “otong” masih tegang dan penasaran minta jatah.

Begitulah Sheila. Sebagai istri, dia hampir sempurna. Wajah dan fisiknya sangat indah dilihat, Orangnya baik dan menarik. Perhatiannya pada kebutuhanku sehari-hari sangat cukup. Hanya saja, bila di rangjang dia paling “pelit”. Nafsuku terbilang tinggi. Sedangkan Sheila, entah kenapa (menurutku) nyaris tidak punya nafsu sex sama sekali. Tidak heran meskipun telah lebih satu tahun Kita menikah, sampai saat ini Kita belum punya anak. Untuk
pelampiasan, Aku terkadang selingkuh dengan perempuan lain. Sheila bukannya tidak tahu. Tapi tampaknya dia tidak terlampau mempermasalahkannya.
Nafsuku susah ditahan. Rasanya hendak kupaksa saja Sheila untuk melayaniku.
Tapi menyaksikan wajahnya yang sedang pulas, Aku jadi tidak tega. Kucium rambutnya. Akhirnya kuputuskan untuk istirahat sambil mendekap Sheila. Siapa tahu dalam mimpi, Sheila inginkan memuaskanku? Hehehe..

Esoknya ketika jam istirahat di kantor, Aku makan siang di Taman anggrek Mall. Tidak disangka, disana Aku bertemu dengan Erna, sahabatku dan Sheila semasa kuliah dahulu.

Kulihat Erna bareng dengan seorang perempuan yang mirip dengannya. Seingatku, Erna tidak punya adik. Ternyata sesudah Kita diperkenalkan, perempuan itu ialah adik sepupu Erna. Felly namanya. Herannya saya, koq saudara sepupu dapat mirip begitu ya? Pendek kata, akhirnya Kita makan bareng.

Sambil makan, Kita mengobrol. Ternyata Felly seperti Erna, tipe yang gampang akrab dengan orang baru. Terbukti dia tidak canggung mengobrol denganku. Ketika Aku menanyakan mengenai Franky (suErna Erna, sahabatku semasa kuliah), Erna bilang bahwa Franky sedang pergi ke Surabaya dua minggu yang lalu untuk sebuah keperluan.
“Paling pun disana dia main perempuan!” begitu komentar Erna.
Aku hanya manggut-manggut saja. Aku kenal baik dengan Franky, dan bukan urusan yang mengherankan kalau Franky main dengan perempuan lain disana. Saat Felly permisi ke toilet, Erna langsung bertanya padAku.

“Ndrew, loe ama Sheila gimana?”
“Baek. Kenapa?”
“Dari dulu loe kan juga terkenal suka main perempuan. Koq bisa Akur ama Sheila?”
Aku diam saja.

Aku dan Sheila memang cukup Akur. Tapi di ranjang jelas terdapat masalah. Kalau dituruti nafsuku, tentu setiap hari Aku mohon jatah dari Sheila. Tapi
kalau Sheila dituruti, sangat hebat sebulan dijatah empat atau lima kali! Itu pun harus main paksa. Seingatku pernah terjadi dalam sebulan Aku
hanya dua kali dijatah Sheila. Jelas saja Aku selingkuh! Mana tahan? “Koq diem, Ndrew?” pertanyaan Erna membuyarkan lamunanku.
“Nggak koq..”
“Loe lagi punya masalah ya?”
“Nggaak..”
“Jujur aja deh..” Erna mendesak.

Kulirik Erna. Wuih, nafsuku muncul. Aku jadi teringat ketika pesta di lokasi Rumah Franky. Karena nafsuku telah sampai ke ubun-ubun, maka akal sehatku pun
hilang.

“Cerita doong..!” Erna pulang mendesak. “Mi.., loe inginkan pesta “assoy” lagi nggak?” Aku memulai. Erna kelihatan kaget.
“Eh? Loe tidak boleh macem-macem ya Ndrew!” kecam Erna. Aduh.., sepertinya dia marah.
“Sorry! Sorry! Gue nggak serius.. sorry yaa..” Aku tidak banyak panik. Tiba-tiba Erna tertawa kecil.
“Keliatannya loe emang punya masalah deh.. Oke, nanti senja kita ketemu lagi di sini ya? Gue pun di lokasi tinggal nggak terdapat kerjaan.”

Saat tersebut Felly pulang dari toilet. Kita melanjutkan membual sebentar, setelah tersebut Aku pulang ke kantor.

Jam 5 senja Aku kembali kantor, dan langsung mengarah ke tempat yang dijanjikan. Sekitar sepuluh menit Aku menantikan sebelum kesudahannya telepon
genggamku berdering. Dari Erna, menanyakan dimana Aku berada. Setelah bertemu, Erna langsung mengajakku naik ke mobilnya. Mobilku kutinggalkan
disana. Di jalan Erna langsung menanyaiku tanpa basa-basi.
“Ndrew, loe lagi perlu seks ya?”
Aku kaget pun ditanya laksana itu.
“Maksud loe?”

“Loe nggak usah malu ama gue. Emangnya Sheila kenapa?”
Aku menghela nafas. Akhirnya kuputuskan untuk menerbitkan uneg-unegku. “Mi.. Sheila tersebut susah banget.. dia bener-bener pelit kalo soal begitu. Loe
bayangin aja, gue tidak jarang kali nafsu kalo ngeliat dia. Tapi dia nyaris nggak pernah ngerespon. Kan nafsu gue numpuk? Gue perlu penyaluran dong!
Untung badannya kecil, jadi kadang-kadang gue paksa dia.”
Erna tertawa.
“Maksudnya loe perkosa dia ya? Lucu deh, masa istri sendiri diperkosa sih?”
“Dia nggak marah koq. Lagi gue perkosanya nggak kasar.” “Mana terdapat perkosa nggak kasar?” Erna tertawa lagi.
“Dan kalo dia nggak marah, perkosa aja dia tiap hari.”
“Kasian pun kalo diperkosa tiap hari. Gue nggak tega kalo begitu..”
“Jadi kalo sekali-sekali tega ya?”
“Yah.. namanya pun kepepet.. Udah deh.. nggak usah ngomongin Sheila lagi ya?”
“Oke.. anda juga nyaris sampe nih..”
Aku heran. Ternyata Erna mengarah ke ke suatu apartemen di Jakarta Barat. Dari tadi Aku tidak menyadarinya.
“Mi, apartemen siapa nih?”
“Apartemennya Felly. Pokoqnya anda masuk dulu deh..”
Felly menyambut Kita berdua. Setelah tersebut Aku menantikan di suatu kursi, sedangkan Felly dan Erna masuk ke kamar. Tidak lama lantas Erna
memanggilku dari balik pintu kamar tersebut. Dan saat Aku masuk, si “ujang” langsung terbangun, karena kulihat Erna dan Felly tidak memakai
pakaian sama sekali. MatAku tidak berkedip menyaksikan pemandangan hebat itu. Dua perempuan yang cantik yang wajahnya serupa sedang bertelanjang
bulat di depanku. Mimpi apa Aku?
“Koq takjub Ndrew? Katanya loe lagi butuh? Ayo sini..!” panggil Erna lembut. Aku menurut laksana dihipnotis. Felly duduk bersimpuh di ranjang.
“Ayo berbaring disini, Mas INdrew.”
Aku berbaring di ranjang dengan berbantalkan paha Felly. Kulihat dari sudut pandangku, kedua unsur bawah buah dada Felly yang menggantung
mempesona. Ukurannya cukup juga. Felly langsung melucuti pakaian atasku, sedangkan Erna melucuti pakaianku unsur bawah, hingga akhirnya
Aku benar-benar telanjang. Batang kemaluanku mengacung keras menandakan nafsuku yang bergolak.
“Gue pijat dulu yaa..” kata Erna.
Kemudian Erna mengapit kemaluanku dengan kedua buah dadanya yang montok itu. Ohh.., kurasakan pijatan daging lembut tersebut pada kemaluanku. Rasanya
benar-benar nyaman. Kulihat Erna tersenyum kepadAku. Aku melulu mengamati bagaimana kedua buah dada Erna yang sedang dipakai untuk memijat batang
penisku.

“Nikmat kan, Ndrew?” Erna bertanya.
Aku mengangguk. “Nikmat banget. Lembut..”
Felly meraih dan menuntun kedua tanganku dengan tangannya guna mengenggam buah dadanya. Dia membungkuk, sampai-sampai kedua buah dadanya
menggantung bebas di depan wajahku.
“Ndrew, perah susu gue ya?” pintanya nakal.
Aku dengan senang hati melAkukannya. Kuperah kedua susunya laksana memerah susu sapi, sampai-sampai Felly merintih-rintih.
“Ahh.. awww.. akh.. terus.. Ndrew.. ahh.. ahh..”
Buah dada Felly terasa legit dan kenyal. Aku merasa laksana raja yang dilayani dua perempuan cantik. Akhirnya Erna menghentikan pijatan
spesialnya. Berganti tangan kanannya menggenggam pangkal si “ujang”. “Dulu diwaktu pesta di lokasi tinggal gue, kontol loe belum ngerasain lidah gue
ya?” kata Erna, dan lantas dengan cepat lidahnya menjulur menjilat si “ujang” tepat di unsur bawah lubangnya.
Aku langsung merinding kesenangan dibuatnya. Dan sejumlah detik lantas kurasakan hangat, lembut, dan basah pada batang kemaluanku. Si “ujang”
telah sedang di dalam mulut Erna, tengah disedot dan dimainkan dengan lidahnya. Tidak melulu itu, Erna pun sesekali mengemut telur kembarku
sehingga memunculkan rasa ngilu yang nikmat. Sedotan mulut Erna benar-benar membuatku terbuai, lagipula ketika ia menyedot-nyedot ujung
kemaluanku dengan kuat. Nikmatnya tidak terlukiskan. Sampai kurasakan perangkat kelErnanku berdenyut-denyut, siap guna memuntahkan air mani.
“Mi.. gue.. udah mau.. ke.. luar..”
Erna semakin intens mengulum dan menyedot, sampai-sampai akhirnya kemaluanku menyemprotkan air mani berkali-kali ke dalam mulut Erna. Lemas badanku
dibuatnya. Tanganku yang bertindak pada buah dada Felly juga akhirnya berhenti. Erna terus mengulum dan menyedot kemaluanku, sehingga
menimbulkan rasa ngilu yang amat sangat. Aku tidak tahan dibuatnya.

“Aahh.. Erna.. udahan dulu dong..!”
“Koq cepet banget keluar?” ledeknya.
“Uaah.., gue kelewat nafsu sih.. maklum dong, sekitar ini disangga terus.”
Aku membela diri.

ceritaabg69.com

“Oke deh, anda istirahat sebentar.”
Erna kemudian menindih tubuhku. Buah dadanya mengurangi dadAku, begitu kenyal rasanya. Nafasnya hangat menerpa wajahku. Felly memungut posisi di
selangkanganku, menjilati kemaluanku. Gairahku perlahan-lahan bangkit kembali. Kuraba-raba kemaluan Erna sampai akhirnya Aku mengejar daging
kenikmatannya. Kucubit pelan sampai-sampai Erna mendesah perlahan. Kugunakan jari ibu jari dan telunjukku guna memainkan daging tersebut, sementara
jari manisku kugunakan guna mengorek liang sanggamanya. Desahan Erna semakin tersiar jelas. Kemaluannya terasa begitu basah. Sementara itu
Felly terus saja menjilati kemaluanku. Tidak melulu itu, Felly mengosok-gosok mulut dan leher si “ujang”, sampai-sampai sekali lagi bulu
kudukku merinding menyangga nikmat.
Kali ini Aku merasa lebih siap guna tempur, sampai-sampai langsung saja Aku membalik posisi tubuhku, menindih Erna yang kini jadi telentang. Dan
langsung kusodok lubang sanggamanya dengan batang kemaluanku. Erna mendesis pendek, kemudian menghela nafasnya. Seluruh batang kemaluanku
terbenam ke dalam rahim Erna. Aku mulai mengocok maju mundur. Erna melingkarkan tangannya mendekap tubuhku. Felly yang menganggur melAkukan
matsurbasi sambil meneliti Kita berdua yang sedang bersatu dalam kesenangan bersetubuh. Erna menerbitkan jeritan-jeritan kecil, sampai
akhirnya berteriak saat menjangkau puncak kenikmatannya, bertolak belakang denganku yang lebih kuat sesudah sebelumnya menjangkau orgasme.
Kucabut batang kemaluanku dari kemaluan Erna, dan langsung kuraih tubuh Felly. Bagi mengistirahatkan si “ujang”, Aku memakai jari-jariku
untuk mengobok-obok kemaluan Felly. Kugosok-gosok klitorisnya sampai-sampai Felly merintih keras. Kujilati dan kugigit lembut sekujur buah dadanya, kanan
dan kiri. Felly meremas rambutku, nafasnya megap-megap dan memburu. Setelah kurasakan lumayan merangsang Felly, Aku mau untuk main course.
Felly nampaknya telah siap guna menerima seranganku, dan langsung memungut doggy style. Kemaluannya yang dihiasi bulu-bulu keriting nampak
sudah basah kuyup. Kumasukkan kemaluanku ke dalam liang kenikmatannya dengan pelan namun pasti. Felly merintih-rintih keras ketika proses
penetrasi berlangsung. Setelah masuk semua penisku, kudiamkan sejumlah saat untuk merasakan kehangatan yang diserahkan oleh jepitan kemaluan Felly.
Hangat sekali, lebih hangat dari kepunyaan Erna. Setelah tersebut kumulai menyodok Felly maju mundur.

“Oke deh, anda istirahat sebentar.”
Erna kemudian menindih tubuhku. Buah dadanya mengurangi dadAku, begitu kenyal rasanya. Nafasnya hangat menerpa wajahku. Felly memungut posisi di
selangkanganku, menjilati kemaluanku. Gairahku perlahan-lahan bangkit kembali. Kuraba-raba kemaluan Erna sampai akhirnya Aku mengejar daging
kenikmatannya. Kucubit pelan sampai-sampai Erna mendesah perlahan. Kugunakan jari ibu jari dan telunjukku guna memainkan daging tersebut, sementara
jari manisku kugunakan guna mengorek liang sanggamanya. Desahan Erna semakin tersiar jelas. Kemaluannya terasa begitu basah. Sementara itu
Felly terus saja menjilati kemaluanku. Tidak melulu itu, Felly mengosok-gosok mulut dan leher si “ujang”, sampai-sampai sekali lagi bulu
kudukku merinding menyangga nikmat.
Kali ini Aku merasa lebih siap guna tempur, sampai-sampai langsung saja Aku membalik posisi tubuhku, menindih Erna yang kini jadi telentang. Dan
langsung kusodok lubang sanggamanya dengan batang kemaluanku. Erna mendesis pendek, kemudian menghela nafasnya. Seluruh batang kemaluanku
terbenam ke dalam rahim Erna. Aku mulai mengocok maju mundur. Erna melingkarkan tangannya mendekap tubuhku. Felly yang menganggur melAkukan
matsurbasi sambil meneliti Kita berdua yang sedang bersatu dalam kesenangan bersetubuh. Erna menerbitkan jeritan-jeritan kecil, sampai
akhirnya berteriak saat menjangkau puncak kenikmatannya, bertolak belakang denganku yang lebih kuat sesudah sebelumnya menjangkau orgasme.
Kucabut batang kemaluanku dari kemaluan Erna, dan langsung kuraih tubuh Felly. Bagi mengistirahatkan si “ujang”, Aku memakai jari-jariku
untuk mengobok-obok kemaluan Felly. Kugosok-gosok klitorisnya sampai-sampai Felly merintih keras. Kujilati dan kugigit lembut sekujur buah dadanya, kanan
dan kiri. Felly meremas rambutku, nafasnya megap-megap dan memburu. Setelah kurasakan lumayan merangsang Felly, Aku mau untuk main course.
Felly nampaknya telah siap guna menerima seranganku, dan langsung memungut doggy style. Kemaluannya yang dihiasi bulu-bulu keriting nampak
sudah basah kuyup. Kumasukkan kemaluanku ke dalam liang kenikmatannya dengan pelan namun pasti. Felly merintih-rintih keras ketika proses
penetrasi berlangsung. Setelah masuk semua penisku, kudiamkan sejumlah saat untuk merasakan kehangatan yang diserahkan oleh jepitan kemaluan Felly.
Hangat sekali, lebih hangat dari kepunyaan Erna. Setelah tersebut kumulai menyodok Felly maju mundur.

“Gue begini pun karena gue lagi pengen koq. Franky udah dua minggu pergi.
Nggak tau baliknya kapan.” Erna menjelaskan.
“Nggak masalah koq. Gue pun emang lagi perlu sih. Lain kali pun gue nggak keberatan.”
“Huss! Sembarangan loe. Gue selingkuh hanya sekali-sekali aja, hanya pengen balas dendam ama Franky. Dia suka selingkuh pun sih! Beda kasusnya
ama loe!”
Aku diam saja. Erna bangkit dari ranjang dan mengingatkanku.
“Udah nyaris setengah delapan malem tuh. Nanti Sheila bingung lho!”
Aku jadi tersadar. Cepat-cepat kuknikmatan pakaianku, tanpa mandi terlebih dahulu. Setelah pErnat dengan Felly, Erna mengantarku pulang ke Citraland.
Disana Kita berpisah, dan Aku pulang ke lokasi tempatku tinggal dengan mobilku. Di rumah, pasti saja Sheila menanyakan darimana saja Aku hingga malam begini baru pulang.
Kujawab saja Aku berakhir makan malam bareng teman. “Yaa.. sebenarnya Sheila udah siapin makan malem.” Sheila kelihatan kecewa.
Sebenarnya Aku belum makan malam. Aku lapar.
“Ya udah, INdrew makan lagi aja deh.. namun INdrew ingin mandi dulu.” katAku sambil mencium dahinya.
Sheila kelihatan bingung, namun tidak berbicara apa-apa.